Kamis, 16 Juni 2022

AKSI NYATA modul 3.3.a.10 Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 AKSI NYATA MODUL 3.3.a.10

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

 

OLEH

SUWARNO,S.Pd

CGP ANGKATAN 4 KAB. MELAWI


 

Tujuan Pembelajaran Khusus: 

1.      CGP dapat menjalankan rancangan program/kegiatan  yang dibuat di tahapan koneksi antarmateri

2.      CGP membuat dokumentasi pelaksanaan program/kegiatan  dalam bentuk e-portfolio.

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Asslamualaikum warrahmatullahi wabbarakatuhu

Salam Semangat dan Bahagia buat pembaca dan khususnya buat bapak ibu guru di seluruh Nusantara. Guru Bergerak Indonesia Maju

 

Pada Kesempatan kali ini saya mencoba menuliskan artikel mengenai praktik baik berbagi aksi nyata modul 3.3 mengenai program yang berdampak pada murid. Salah satu program yang saya tulis adalah budaya positif “Siaga Apel Pagi”. Program ini kami laksanakan di SMPN 4 Tanah Pinon Barat Kec. Tanah Pinoh Barat Kab. Melawi. Artikel ini saya tulis sebagai bentuk refleksi aksi nyata dengan panduan kerangka 4F (Facts, Feelings, Findings, dan Future).

 

1.        Facts (Peristiwa)

Menurut filosofi KHD bahwa Pendidikan Budi Pekerti atau Karakter, yaitu bulatnya jiwa manusia, bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan yang akan menumbuhkan energi jiwa manusia sebagai makhluk individu dan sosial dan dapat memerintah atau menguasai dirinya sendiri , mulai dari gagasan, pikiran, atau angan-angan hingga menjadi tindakan. Ki Hadjar menyebutnya sebagai manusia yang beradab dan itulah tujuan Pendidikan Indonesia secara garis besar (Sugiarta, Mardana, Adiarta, & Artanayasa, 2019). Maka dipandang perlu mengembangkan karakter anak yang sangat penting adalah mandiri, percaya diri, dan tanggung jawab. tidak dapat dipungkiri bahwa kemampuan publik speaking meruapakan salah satu karakter terpenting dalam meningkatkan pembelajaran sosial emosional (PSE) yaitu mampu berkomunikasi secara asertif.

 

Banyak ditemukan hampir disemua sekolah yang menjadi masalah utama pembelajaran adalah rasa percaya diri anak ketika harus tampil didepan, sering kita temui ada anak yang cerdas akademisnya namun publik speakingnya rendah sehingga malu ketika tampil didepan, ada juga karakter anak yang kecerdasan akademiknya biasa saja, namun memiliki rasa percaya diri tinggi dan mampu berbicara di depan publik dengan bahasa yang baik.  harapan saya melalui program ini yang saya beri nama "Siaga Apel Pagi" dapat meningkatkan keterampilan anak berkomunikasi dan meningkat rasa percaya diri, menciptakan lingkungan yang positif melalui habituasi program yang berdampak pada anak. skenario  program apel pagi adalah dengan melibatkan anak sepenuhnya sebagai petugas apel, dan melatih kemandirian dan tanggung jawab mereka terhadap kesepakatan yang telah dibuat, setiap pemimpin barisan menghitung jumlah murid yang hadir dan tidak hadir untuk dilaporkan kepada pemimpin apel, tugas pemimpin apel adalah memberi semangat berupa yel yel, tepuk PPK, salam PPK, dan ice break lainya yang dipilih oleh pemimpin, pemimpin dihari ini akan menentukan petugas hari esok sesuai sesuai syarat salah satunya petugas harus bergiliran, selanjutnya ada dirigen yang memimpin salah satu lagu nasional atau lagu indonesia raya, dilakukan begitu seterusnya secara rutin.

Salah satu masalah disekolah saya SMPN 4 Tanah pinoh barat adalah rasa malu ketika tampil di depan, kurang percaya diri, baik ketika belajar dikelas, diskusi, tanya jawab dan presentasi di depan kelas dan cenderung pasif. Berbagai upaya sudah mulai dilaksanakan salah satunya yang pernah saya lakukan adalah meminta anak membuat catatan kecil di kertas yang saya bagikan, catatan itu berkenaan dengan perasaan anak ketika belajar, materi mana yang belum dipahami, apa yang perlu diperbaiki dipemebalajaran berikutnya. anak menuliskan gagasanya, namun ketika diminta untuk membaca didepan mereka malu dan sebagaian menolak. Selanjutnya bersama komunitas guru dan rekan sejawat, saya meminta tanggapan mengenai program apel  pagi setiap hari yang dipimpin oleh OSIS dan anggotanya, rekan sejawat  dan kepala sekolah setuju.

Di aksi nyata ada beberapa program yang telah kami laksanakan terkait kegiatan PGP diantaranya, Siaga Apel Pagi,  Gerakan sadar kebersihan (Jumat bersih dan sehat), sarapan bersama “Satu Rasa”, les komputer gratis, ekstra kurikuler tari, dan cinta lingkungan dengan menanm pohon produktif. Namun saya memilih program Siaga Apel Pagi. Alasan saya mengapa memilih program ini adalah, program ini dilaksanakan setiap hari kecuali hari senin, melibatkan student agency dalam pelaksanaanya, lebih berdampak pada murid, melatih sikap percaya diri dalam mewujudkan profil pelajar pancasila, dan membentuk karakter murid yang berbudi pekerti luhur melibatkan pembelajaran sosial emosional yang mampu menajamkan rasa, karsa dan cipta murid.

 

Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan

 

Hasilnya setelah program berlansung kurang lebih 1 bulan, terlihat sekali adanya perubahan sikap yang lebih disiplin dan percaya diri pada murid, terutama pada beberapa murid yang selama ini pemalu, pasif, kurang bersosialisasi, publik speaking yang kurang baik, dan kurang rasa peduli.  Setelah program Siaga Apel Pagi dilaksanakan murid terlihat percaya diri dalam menyampaikan ide, bertanya, kritis memberikan saran, lebih peduli dengan rekanya, cepat merespon ketika ada rekan yang butuh pertolongan, datang kesekolah lebih awal, memiliki rasa tanggung jawab tinggi, yang menjadi petugas apel selalu menyiapkan diri dengan baik.

 








 

                                                         Dokumentasi Aksi Nyata “Siaga Apel Pagi”           

Link drive video https://drive.google.com/file/d/197O4NYacXUUY8pnglvW_JFfxaO953pI6/view?usp=sharing

 

2.      Feelings (Perasaan)

Persaan saya ketika dan setelah aksi nyata dilaksanakan sangat optimis, antusias dan penuh semangat serta keyakinan, bahwa program ini adalah salah satu budaya positif yang mungkin bisa dibagi praktik baiknya dengan sekolah lainnya. Saya merasa menjadi pendidik yang beruntung karena dapat memberi sedikit manfaat dan perubahan yang nyata disekolah.

 

3.      Findings (Pembelajaran)

Pembelajaran yang saya dapatkan setelah aksi nyata modul 3.3 pengelolaan pembelajaran yang berdampak pada murid adalah munculnya ide dan gagasan baru yang dapat saya tuangkan dalam program pembelajaran intrakurikuler, ko kurikuler, dan ekstrakurikuler, merancang program dengan alur BAGJA, membuat keputusan dengan paradigma yang tepat dan dilakukan melalui 9 langkah penting, menemu kenali 7 aset utama yang dijadikan pendukung utama menjalankan program serta melaksanakan aksi sebagai wujud implementasi perencanaan, melakukan refleksi dan perbaikan. Proses itu semua sangat menyenangkan dan sudah menjadi rutinitas buat saya. Lebih bisa mengendalikan emosi, mengenal murid lebih dekat tentang dunianya, dan berasaskan keberpihakan murid dalam setiap proses pembelajaran

 

 

4.      Future (Penerapan ke Depan)

Rencana perbaikan dimasa mendatang

1)       Bersama rekan sejawat dan komunitas guru melakukan identifikasi dan analisis yang tepat terhadap aset potensial sekolah, menyusun kegiatan apel pagi dengan aktivitas yang menarik berdasarkan minat murid, misalkan dengan membaca puisi, pantung, atau pidato,

2)      Menyusun program pembelajaran intra, ko dan ekstra secara seimbang dan selaras berdasarkan kepemimpinan murid sebagai student agency dengan memperhatikan voice, choice dan ownership pada murid.

3)      Terus belajar untuk mengasah keterampilan saya dalam mengembankan program merdeka belajar yang benar benar memerdekakan murid belajar sesuai bakat, minat, dan kebutuhan murid.

 

Demikian sekilas artikel refleksi aksi nyata program berdampak pada Murid, masukan dan saran bapak ibu semua adalah aharapan saya untuk penyempurnaan pada masa mendatang

Wasslamualaikum warrahmatullai wabbarakatuhu. . . .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dokumentasi

1.        Jumat bersih dan sehat (gerakan sadar kebersihan)

 




 

 

2.       Sarapan Bersama (Satu Rasa)

    



 

3.       Siaga Apel Pagi





 

Jumat, 27 Mei 2022

Koneksi Antar Materi modul 3.2.a.9 Pemimpin Pembelajaran Dalam Mengelola Sumber Daya

Tagihan 3.2.a.9 Koneksi antar materi

Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya

Oleh SUWARNO,S.Pd

CGP Angkatan 4 Kab . Melawi

Fasilitator                                         : Slamet Murip, M.Pd

Pendamping Praktik : Muhammad Firman,S.Pd

 

I.           Tujuan Pembelajaran Khusus  

  1. CGP mampu menghubungkan materi modul ini dengan modul-modul yang didapatkan sebelumnya.
  2. CGP mampu membuat rencana perubahan secara rinci dengan menggunakan format BAGJA.

II.        Sintesis Materi

1.        Pada sesi pembelajaran kali ini, Anda diberikan tantangan untuk membuat kesimpulan dan juga koneksi antara semua materi yang telah diberikan dalam modul ini dengan materi lainnya selama mengikut proses Pelatihan Guru Penggerak.

2.       Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran  dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.  

3.       Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungannya pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.  

4.      Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan materi lain yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti proses Pelatihan Guru Penggerak.

5.       Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti pelatihan terkait modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

6.      Komunikasikan hasil kesimpulan Anda dengan cara apapun yang bisa Anda pilih sendiri. Unggahlah bagan atau artikel ini sesuai petunjuk dibagian bawah.

III.                Rancangan tindakan

1.        Buatlah rencana kecil perubahan yang akan Anda lakukan pada diri Anda yang berkaitan dengan materi dalam modul ini dan mengimplementasikan pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset.

2.       Lakukan perubahan kecil yang berdampak dalam lingkup kelas Anda.  Di sini Anda akan berlatih membuat rangka perubahan dalam lingkup kelas Anda sendiri sebelum masuk ke lingkup yang lebih besar, yaitu sekolah pada modul selanjutnya.

3.       Rencanakan prakarsa yang bisa dipastikan akan Anda laksanakan, dengan jangka waktu yang optimal bagi Anda, dan tentunya Anda dapat mengestimasi apa dampak dari rencana ini bagi murid Anda.

4.      Anda dapat mengingat kembali video yang disaksikan pada sesi Elaborasi Pemahaman sebelumnya.

5.       Gunakanlah format BAGJA atau 5 D (Define, Discovery, Dream, Design, Destiny/Deliver) yang sudah dipelajari pada modul 1.3.  Anda dapat mengunggah rencana perubahan kecil ini pada tautan berikut ini.

6.      Sebagai pengingat apa itu yang akan Anda gunakan, saksikan video tayangan berikut ini. (video BAGJA Materi Modul 1.3)

Bismillahirrahmanirrahim

Asslamualaikum warrahmatullahi wabbarakatuhu 

Salam Sehat untuk pembaca yang budiman,  jumpa lagi di blog sederhana blog MasArno.com. Pada kesempatan kali ini ijinkan kami berbagi terkait tugas pelatihan guru penggerak. Adapun tugas yang dapat kami bagikan yaitu tugas modul 3.2.a.9 Koneksi Antar Materi Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.

Berdasarkan tujuan pembelajaran khusus yang akan kami capai, mari mengulas terlebih dahulu hubungan antar modul sebelumnya diawali dari modul 1 tentang Paradigma dan Visi Guru Penggerak, modul 2 tentang pembelajaran berdiferensiasi dan coaching dan modul 3 tentang Pemimpin pembelajaran dalam pengembangan Sekolah.

 

Modul 3.2 ini bersisikan tentang bagaimana memimpin pembelajaran dengan mengelola aset utama yang dapat menunjang pembelajaran disekolah. Terdapat 7 aset utama yang dapat dijadikan kekuatan untuk mengembangkan sekolah menjadi lebih baik dalam mewujudkan profil pelajar pancasila. Ketujuh aset tersebut terdiri dari 1) aset Manusia (SDM), 2) Aset Sosial, 3) Aset Fisik/Sarana 4) Aset Alam/Lingkungan 5) Aset Finansial (Keuangan), 6) Aset Politik, 7) Aset Agama dan Budaya. Sebagai seorang pemimpin baik di kelas maupun di sekolah, kita harus mampu mengidentifikasi dan mengelola segala sumber daya (aset) yang dimiliki oleh sekolah untuk dapat dijadikan sebagai keunggulan sekolah dalam rangka mendukung perwujudan visi dan misi sekolah. Menjadikan kekuatan sebagai sumber utama agar kelemahan dan kekurangan menjadi tidak relevan.

 

DokPri. Dewan Guru SMPN 4 Tanah Pinoh Barat

Hubungan dengan modul 1.1 tentang Filosofi KHD tentang pendidikan dan pengajaran “ Pendidikan dan Pengajaran merupakan usaha persiapan untuk segala kepentingan hidup manusia, dalam lingkup seluas luasnya”. Menurut KHD tujuan Pendidikan adalah “menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggitingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat”. Maka, dalam mengidentifikasi aset perlu kiranya dijadikan dasar adalah memperhatikan kodrat anak dalam belajar yaitu kodrat alam dan kodrat zaman, sehingga keputusan dalam menyusun program nantinya benar benar berdampak pada anak.

Description: C:\Users\GC\Downloads\nilai guru penggerak.JPGHubungan dengan modul 1.2 tentang nilai dan guru sebagai manusia seutuhnya, guru diharapkan memiliki komptensi pedagogik, profesional  dan sosial yang baik. Tugas utama guru adalah menuntun kodrat anak. Salah satu peran penting Guru adalah sebagai pemimpin pembelajaran yang mampu mewujudkan profil pelajar pancasila.

 

Hubungan dengan modul 1.3. tentang visi dan tujuan guru penggerak. Seorang pemimpin harus memiliki visi dan misi yang jelas, terarah dan memiliki startegi dalam mencapai visi tersebut. Dalam menyusun dan merencakana visi dan misi tidak terlepas dari apa yang disampaikan KHD yaitu “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.” Dalam membuat rencana aksi maka diperlukan strategi atau metode yang tepat, menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif melalui alur BAGJA ( Buat pertanyaan – Ambil Pelajaran – Gali Mimpi – Jabarkan rencana – Atur eksekusi).

 

Description: C:\Users\GC\Downloads\228964-1627440760.jpegHubungan dengan Modul 1.4 tentang Budaya Positif. Jika mengulas tentang tujuan pendidikan, untuk menuntun kekuatan kodrat anak-anak, agar mereka dapat……”. Makna kata mereka dapat adalah anak anak bisa menciptakan, diatur, di disiplinkan dan dibentuk budi pekertinya menjadi pelajar berprofil pancasila. Proses pembentukan itu melalui pembiasaan yang kemudian menjadi budaya positif disekolah, yang pada akhirnya pembiasaan atau habituasi itu melekat pada diri anak-anak yang kelak bisa menjadi bekal hidup mereka di masa depan.

 

Description: C:\Users\GC\Downloads\sosio emosio.jpgHubungan dengan modul 2.1 tentang pembelajaran berdifereniasi yang berpihak pada murid. Sebagai pemimpin pembelajaran dikelas maupun disekolah seorang guru memiliki tanggung jawab penuh terhadap pembelajaran yang bermakna untuk anak-anak disekolah. Pembelajaran yang berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mampu mengembangkan potensi anak sesuai kodratnya (kodrat alam dan kodrat zaman).

Hubungan dengan modul 2.2 tentang  pembelajaran sosial dan emosional. Pembelajaran ini sosial dan emosional berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga untuk mengajarkan mereka menjadi orang yang baik untuk mencapai keselamatan dan kebahgiaan yang setinggi tingginya. Dengan kematangan sosial dan emosional yang baik diharapkan nantinya guru dan anak anak disekolah memiliki adab dan budi pekerti yang luhur. Pembelajaran Sosial Emosional  dapat diterapkan dalam kelas melalui pembiasaan pengenalan emosi diri, melalui penerapan ice breaking dan memungkinkan pembelajaran yang dilaksanakan diluar kelas sesuai kesepakatan kelas.

Hubungan dengan modul 2.3 tentang kemampuan Coaching. Salah satu peran utama guru adalah kemampuan melakukan coaching dengan murid, rekan sejawat atau warga sekolah lainya. Setelah mampu mengenali dan mendalami pembelajaran sosial dan emosional maka  metode pendekatan coaching dalam menggali potensi sangat penting, coaching berprinsip dengan menjalin mitra dengan coachee. Kemampuan melakukan coaching merupakan salah satu aset utama dalam mengembangkan sumber daya manusia. Melalui penerapan coaching itu artinya guru sudah mampu MENUNTUN mengembangkan potensi anak sesuai kodratnya.

Hubungan dengan modul 3.1 keputusan pemimpin pembelajaran. Pada modul ini seorang pemimpin sudah mendalami bagaimana caranya mengambil sebuah keputusan dengan sebaik-baiknya ketika berada dalam situasi dilema etika dan bujukan moral. Agar terhindar dari pengambilan keputusan yang salah maka diperlukan  langkah yang harus dilewati ketika mengambil dan menguji keputusan. Dalam pengelolaan sumber daya/aset juga dibutuhkan kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan saat melaksanakan pengelolaan sumber daya yang dimiliki, yang demikian itulah maksud dari tujuan pendidikan yang cetuskan oleh KHD. Diharapkan setiap pemimpin pembelajaran dapat membuat keputusan yang tepat untuk kepentingan murid.

Pada modul 3.2 dalam mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki. Sekolah sebagai organsiasi dianalogikan sebuah ekosistem.  Ekosistem yang saling  berinteraksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. 

Description: D:\DOk PGP\modul 3\3.2\IMG_20220518_061531.jpgDescription: D:\DOk PGP\foto 17-21\IMG_20210817_083609.jpg

 

Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah antara lain Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Murid,  Orang Tua, dan Masyarakat sekitar sekolah.

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Faktor abiotik yang ada dalam ekosistem sekolah antara lain Keuangan (Dana Bos, Komite, Sponsor), Sarana dan prasarana (gedung sekolah, halaman, lahan kebun, alat alat TIK, LAB, Perputakaan)

Dalam rangka mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid, sekolah akan berhasil jika mampu memandang segala aset (sumber daya) yang dimiliki sebagai sebuah keunggulan, dan menjadikan kekurangan tidak relevan dengan kondisi sekolah. Sekolah akan berfokus pada pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang dimiliki tanpa lebih banyak memikirkan pada sisi kekurangan yang ada. Dalam pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah ada 2 pendekatan yang dapat dilakukan yaitu:

1.       Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking). Pendekatan ini akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif. Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

2.       Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.  

Kesimpulan saya: Pendekatan berbasis aset atau PKBA (pengembangan komunitas berbasis aset) merupakan paradigma positif yang digunakan dalam mengembangkan potensi potensi aset lokal berdasarkan kekuatan yang dimiliki dengan cara mengidentifikasi dan menganalisis aset utama untuk dijadikan modal pengembangan berdasarkan kemandirian, inovasi dan kreatif.

Rancangan Tindakan dengan format B-A-G-J-A

Sebagai persiapan melakukan Aksi Nyata tersebut, buatlah rancangan sederhana dengan mengisi bagan berikut: 

PRAKARSA PERUBAHAN

Tahapan

Pertanyaan

Daftar tindakan/ riset/ penyelidikan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan jawaban

B-uat pertanyaan (Define)

  • Membuat pertanyaan utama yang akan menentukan arah investigasi kekuatan/potensi/ peluang;
  • Menggalang atau membangun koalisi tim perubahan

1.        Bagaimana cara memanfaatkan alat TIK disekolah untuk murid?

1.        melakukan diskusi bersama rekan sejawat dan kepala sekolah dalam memetakan aset TIK.

2.        Membuat daftar list prioritas pemanfaatan alat alat komputer untuk belajar murid

A-mbil pelajaran (Discover)

  • Menyusun pertanyaan lanjutan untuk menemukenali kekuatan/potensi/ peluang lewat investigasi;
  • Menentukan bagaimana cara kita menggali fakta, memperoleh data, diskusi kelompok kecil/besar, survei individu, multi unsu.

1.        Alat TIK apa saja yang dimiliki sekolah?

2.        Berapa jumlah alat komputer yang dapat dimanfaatkan?

3.        Program belajar apa yang akan diberikan kepada murid

4.       Apa manfaat bagi anak jika mengikuti bimbel TIK

1.        Mendata jumlah chrome book dan tab advan.

2.        Jumlah chrombook 15 unit, tab advan 25 unit, 1 PC, 3 laptop dan 1 proyektor dan 1 modem.

3.        Pembelajaran tambahan berupak bimbel ms. Word dan ms. Excel

4.       Pemanfaatan cbt offline untuk penilaian (ulangan harian, asesmen semester, dan USBN)

5.         Diharapkan anak-anak semakin termotivasi untuk belajar

G-ali mimpi (Dream)

  • Menyusun deskripsi kolektif bilamana inisiatif terwujud;
  • Mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multiunsur (kapan, di mana, siapa saja).

1.        Mengharapkan anak anak mampu mengetik, membuat dokumen di  word, membuat laporan dalam bentuk tabel, dan terbiasa dengan bekerja surat menyurat dikomputer,

2.        Menguasai teknologi sederhana dan tidak kalah bersaing jika nantinya mereka sekolah di Kota kabupaten.

3.        Memimpikan semua unsur baik guru dan warga masyarakat ikut serta dalam bimbel TIK serta dapat mendampingi dalam bimbingan

1.        Menyusun jadwal kegiatan bimbel

2.        Menyediakan modul atau bahan ajar

3.        Menyusun daftar hadir

4.       Menyusun jadwal guru dalam bimbingan

J-abarkan rencana (Design)

  • Mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera,dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian;
  • Menyusun definisi kesuksesan pencapaian

Langkah pertama adalah mengidentifikasi laptop atau komputer yang siap digunakan, kedua menentukan ruangan yang akan digunakan untuk bimbel, ketiga menyusun kelompok murid untuk bimbel (kelompok berdasarkan zonasi murid, jenis kelamin, kelas dan kesempatan waktu mengikuti les bimbel), mengatur  jadwal pertemuan dan pendamping bimbel (dilaksanakan pada sore hari 15.30 – 17.00).  Membuat kesepakatan bersama untuk mewujudkan program agar sukses dan kontinyu.

A-tur eksekusi (Deliver)

  • Menentukan siapa yang berperan/ dilibatkan dalam pengambilan keputusan;
  • Mendesain jalur komunikasi dan pengelolaan rutinitas (misal: SOP, knowledge management, monev/refleksi)

 Yang terlibat dalam program ini adalah kepala sekolah sebagai penanggung jawab, guru sebagai relawan bimbel, dan komite sebagai wadah komunikasi antar orang tua siswa dan sekolah.

 

Demikian Ulasan saya dalam koneksi antar materi modul 3.2 Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya. Kritik dan saran berupa komentar sangat saya harapkan demi penyempurnaan dimasa depan.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabbarakatuhu….

 

  

AKSI NYATA modul 3.3.a.10 Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

  AKSI NYATA MODUL 3.3.a.10 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID   OLEH SUWARNO,S.Pd CGP ANGKATAN 4 KAB. MELAWI   Tuj...